pilihan dan budaya
perbedaan cara orang timur dan barat mengambil keputusan penting
Pernahkah kita berada di persimpangan jalan saat harus membuat keputusan besar? Misalnya, memilih jurusan kuliah, menentukan jalur karier, atau bahkan memilih pasangan hidup. Saat momen itu tiba, biasanya ada dua suara yang berdebat di kepala kita. Suara pertama berteriak, "Ikuti passion dan kata hatimu!" Suara kedua berbisik cemas, "Tapi, apa kata keluarga nanti? Apakah orang tua akan kecewa?"
Saya sering mengamati dinamika ini. Kalau kita menonton film-film Hollywood, pesan moralnya hampir selalu seragam: jadilah dirimu sendiri, kejar mimpimu, dan jangan pedulikan apa kata dunia. Sang pahlawan selalu bertindak atas nama kebebasan individu.
Tapi di dunia nyata, khususnya bagi kita yang besar di Asia, ceritanya tidak sesederhana itu. Kita sering merasa egois kalau mengambil keputusan hanya mementingkan diri sendiri. Ada jaring tak kasat mata bernama keharmonisan keluarga dan ekspektasi sosial yang menahan kita.
Apakah ini berarti kita kurang berani? Atau kurang mandiri? Belum tentu, teman-teman. Perbedaan cara kita mengambil keputusan ini bukanlah sekadar masalah mentalitas. Ini adalah warisan psikologis dan sejarah ribuan tahun yang diam-diam mencetak ulang cara kerja otak kita.
Mari kita mundur sejenak ke masa lalu untuk melihat akar dari perbedaan ini. Dalam dunia psikologi evolusioner dan antropologi, ada sebuah hipotesis menarik yang disebut The Rice Theory (Teori Padi).
Bayangkan peradaban Barat kuno yang bertahan hidup dengan menanam gandum. Bertani gandum tidak terlalu membutuhkan kerja sama tim yang masif. Seorang petani bisa mengurus ladangnya sendiri, memanen sendiri, dan bertahan hidup sendiri. Kemandirian adalah kunci. Ini melahirkan budaya yang sangat menghargai otonomi dan kebebasan individu. Psikolog menyebut kelompok ini sebagai masyarakat WEIRD (Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic).
Sekarang, mari kita lihat nenek moyang kita di Timur yang menanam padi. Bertani padi itu rumit. Sistem irigasi harus dibagi adil dengan tetangga desa. Jadwal tanam dan panen harus serentak. Kalau ada satu orang yang egois menyedot semua air untuk sawahnya sendiri, satu desa bisa kelaparan.
Di sini, kerja sama bukanlah sekadar pilihan bermasyarakat, melainkan syarat mutlak untuk tidak mati kelaparan. Mengorbankan keinginan pribadi demi kebaikan kelompok adalah kunci pertahanan hidup. Selama ribuan generasi, budaya padi ini perlahan meresap masuk, mengubah cara pandang kita terhadap nilai sebuah "pilihan".
Lalu, bagaimana sejarah bertani ini memengaruhi cara kita membuat keputusan hari ini?
Di awal tahun 2000-an, para ilmuwan psikologi melakukan eksperimen klasik tentang cognitive dissonance (rasa tidak nyaman saat pilihan kita bertentangan dengan keyakinan kita). Mereka meminta sekelompok orang Amerika dan sekelompok orang Asia untuk memilih satu dari sepuluh CD musik untuk dibawa pulang.
Hasilnya sangat mengejutkan. Orang Amerika akan berusaha keras mencari-cari alasan pembenaran mengapa CD yang mereka pilih adalah yang terbaik. Mereka butuh meyakinkan diri sendiri bahwa pilihan pribadi mereka itu hebat.
Sedangkan orang Asia? Mereka tampak santai saja. Mereka tidak merasa perlu repot-repot menjustifikasi pilihan mereka. Kenapa? Karena bagi mereka, pilihan pribadi untuk diri sendiri itu tidak terlalu berbobot.
Namun, tunggu dulu. Eksperimen ini kemudian diubah sedikit. Para peneliti meminta partisipan memilihkan CD musik untuk teman baik mereka.
Tiba-tiba, polanya berbalik. Kali ini, orang Asia yang pusing tujuh keliling. Mereka merasa stres, cemas, dan berusaha mati-matian meyakinkan diri bahwa mereka telah membuat keputusan yang paling tepat untuk temannya.
Pernahkah teman-teman menyadari hal ini? Mengapa kita sering kali lebih pusing memikirkan kado untuk sahabat atau menjaga perasaan orang tua, dibandingkan memikirkan apa yang sebenarnya kita sendiri inginkan? Apakah konsep "kehendak bebas" (freewill) di Timur itu sebenarnya tidak ada?
Jawaban dari misteri ini ternyata tersembunyi jauh di dalam tengkorak kepala kita. Dan inilah fakta ilmiah yang paling membuat saya merinding.
Para ahli neurosains akhirnya memasukkan orang-orang dari budaya Barat dan budaya Timur ke dalam mesin pemindai otak (fMRI). Mereka memantau aktivitas medial prefrontal cortex (mPFC), yaitu area otak yang langsung menyala ketika kita memikirkan tentang "diri kita sendiri" atau identitas diri.
Ketika orang Barat diminta memikirkan tentang diri mereka sendiri, mPFC mereka menyala terang. Namun, ketika diminta memikirkan tentang ibu mereka, area mPFC itu meredup. Otak mereka memisahkan secara tegas antara "Aku" dan "Ibu". Bagi mereka, identitas diri itu berdiri sendiri (independent self).
Sekarang, tebak apa yang terjadi pada otak orang-orang Asia.
Ketika diminta memikirkan tentang diri sendiri, mPFC mereka tentu saja menyala. Namun, kejutannya terjadi ketika mereka diminta memikirkan tentang ibu mereka. Area mPFC di otak mereka tetap menyala terang. Area otak yang sama persis!
Bagi otak orang Timur, konsep "Aku" dan "Ibu" tidak dipisahkan oleh batas yang kaku. Kita memiliki apa yang disebut interdependent self. Identitas kita secara biologis dan neurologis saling tumpang tindih dengan orang-orang terdekat kita.
Inilah alasan ilmiah mengapa keputusan kita sering kali terasa begitu berat. Ketika kita membuat pilihan yang mengecewakan keluarga, otak kita memprosesnya bukan sebagai penolakan terhadap orang lain, melainkan sebagai luka pada sebagian dari diri kita sendiri.
Memahami fakta ini rasanya seperti mendapat sebuah pelukan hangat dari sains.
Terkadang, kita mungkin merasa tertinggal atau kurang tegas karena terlalu banyak memikirkan orang lain saat mengambil jalan hidup. Kita dihantui oleh standar sukses ala Barat yang menuntut kita untuk menjadi serigala penyendiri yang berani mendobrak tradisi.
Namun, sains membuktikan bahwa kebiasaan kita mempertimbangkan keluarga bukanlah tanda kelemahan. Itu adalah tanda tingginya tingkat empati dan keterhubungan sosial yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita agar kemanusiaan bisa bertahan hidup bersama-sama.
Tentu saja, kita hidup di zaman modern. Menjadi martir dan selalu mengorbankan kebahagiaan pribadi demi ekspektasi orang lain juga tidak baik untuk kesehatan mental. Kita harus mencari titik tengah.
Pelajaran terpentingnya adalah: mari kita berhenti menghakimi cara kita sendiri (dan cara orang tua kita) dalam membuat pilihan. Kita bisa mengadopsi keberanian orang Barat untuk mengejar passion, namun tetap mempertahankan kehangatan komunal orang Timur saat mengeksekusinya.
Karena pada akhirnya, pilihan terbaik bukanlah pilihan yang membuktikan seberapa hebat kita berdiri sendiri. Pilihan terbaik adalah pilihan yang membuat kita menyadari bahwa kita, dan orang-orang yang kita cintai, sedang berjalan ke arah yang sama.